Menjadi guru bukanlah perkara mudah, apalagi guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang setiap hari harus siap mendengarkan cerita dan keluh kesah siswa. Hal itu pula yang dijalani oleh Ibu Rahmi Utama, S.Pd, guru BK di MAN 3 Pontianak. Dalam wawancara singkat, beliau membagikan kisah perjalanan, pengalaman, serta motivasinya dalam mendampingi para siswa.
Sebelum resmi menjadi guru BK, Ibu Rahmi sempat menjadi tenaga honorer di tingkat MTs setelah lulus kuliah. Tak lama, beliau berhasil lulus CPNS dan akhirnya dipercaya mengabdi sebagai guru BK di Madrasah Aliyah. Sejak awal, pilihannya untuk menempuh pendidikan konseling memang berangkat dari hati. Ia memiliki keinginan kuat untuk memahami kepribadian peserta didik sekaligus membantu mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Menurutnya, permasalahan yang paling sering disampaikan siswa adalah tentang hubungan pertemanan, keluarga, dan juga persoalan asmara. Namun, tidak semua siswa mudah terbuka. Untuk itu, Ibu Rahmi menerapkan pendekatan humanis—yaitu memahami dulu kepribadian siswa, lalu mengajak mereka berdiskusi melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka. Dengan begitu, siswa mau berbagi cerita tanpa merasa dipaksa.
Di antara banyak kisah yang pernah ia dengar, ada satu yang paling membekas. Seorang siswa bercerita bahwa sejak kecil ia tidak pernah bertemu dengan kedua orang tuanya dan hanya dibesarkan oleh neneknya. Meski begitu, anak tersebut tetap mendoakan orang tuanya dengan penuh harapan agar suatu saat bisa bertemu. Kisah ini menjadi pengalaman berharga yang tak pernah dilupakan oleh Ibu Rahmi.
Dalam keseharian, hal kecil yang membuatnya bahagia adalah saat melihat siswa semangat belajar, tersenyum, dan mampu mengatasi masalahnya. Jika sedang tidak mendengarkan curhat siswa, ia biasanya mengisi waktu dengan mempersiapkan materi layanan BK, mengerjakan administrasi, laporan, atau sekadar membaca buku.
Kepada para siswa, pesan yang paling sering ia sampaikan adalah untuk tetap semangat belajar, menentukan masa depan sesuai minat dan bakat, menjaga pergaulan, memperbaiki hubungan dengan orang tua, serta tidak lupa beribadah. Bahkan, jika diminta menuliskan satu kalimat motivasi untuk dipasang di mading sekolah, beliau memilih kalimat sederhana tapi penuh makna:
“Kamu tidak perlu menjadi luar biasa untuk memulai, tapi kamu harus memulai untuk menjadi luar biasa.”
(Reporter: ifah)








